Sejarah

AWAL SEJARAH SEMINARI MENENGAH

Di Kota Padang

Pada waktu Seminari Menengah didirikan, Indonesia masih dalam status daerah misi. Keuskupan disebut Vikariat Apostolik. Gereja Katolik baru 14 tahun berkarya di Tanah Batak. Umat dilayani misionaris luar negeri.

Selama perang dan perjuangan kemerdekaan, umat Katolik di Tapanuli tidak pernah sekalipun dikunjungi seorang pastor. Tidak mengherankan, bahwa sesudah Proklamasi Kemerdekaan pendidikan pastor pribumi terus mulai digagasi. Sebelum perangpun sudah ada anak pribumi yang ingin menjadi pastor. Karena belum ada Seminari di Sumatera, 20 calon dikirim ke Semiari di Flores, Jawa dan Sulawesi.

Ada juga yang dikirim ke Negeri Belanda. Calon-calon ini berasal dari keluarga orang Indo dan Tionghoa, hanya satu dari keluarga Batak. Dari calon-calon ini hanya satu yang menjadi pastor, yaitu Pastor Berthus Vogdt Pr. Pada tahun 1947 Pastor Berthus Vogdt menjadi pastor paroki di Padang, kota asalnya.

Pada tahun 1948 di Pematangsiantar dibuka kelas Probatorium (kelas percobaan) untuk anak yang ingin menjadi imam. Tidak banyak anak yang melamar. Untuk pendidikan lebih lanjut calon dikirim keFlores. Dari kelompok ini tidak ada yang menjadi imam. Habis beberapa tahun Probatorium itu ditutup. Pada bulan September 1949 Mgr. Mathias Brans OFM Cap, Vicarius Apostolicus Medan, memutuskan membuka pusat pembinaan imam yang lengkap di kotaPadang. Banyak pastor berpendapat bahwa tindakak itu premature. Keputusan ini diambil atas desakan Duta Vatikan di Jakarta, Mgr. De Jonghe d’Ardoye. Sebagai lokasi Seminari yang baru itu dipilih sebuah gedung yang dibangun sebagai panti asuhan anak yatim piatu sebelum perang dunia yang kedua. Pada tahun 1949 kotaPadang masuk wilayah Vikariat Apostolik Medan.

Pastor Nivardus Ansems dibebani dengan tugas memulai persiapan pendirian Seminari. Beliau ini ahli Kitab Suci, tamatan Universitas Biblicum di Roma. Ia baru datang ke Indonesia, masih sibuk belajar Bahasa Indonesia di Sabang. Sebelum Seminari dibuka, secara mendadak Pastor Ansems meninggal, tanggal 23 April 1950.

Sebagai penggantinya dipilih Bernardinus van de Laar dan Wendelinus Willems. Keduanya pastor tentera pada waktu itu dan tidak berpengalaman di bidang sekolah. Mereka berpedoman pada pendidikan mereka sendiri di Seminari Menengah di negeri Belanda.

Seminari yang mereka bayangkan bukan SMP atau SMA tetapi sekolah yang mempersiapkan muridnya untuk Seminari Tinggi dan kemudian menjadi imam. Bahasa Latin menjadi mata pelajaran utama. Pembentukan kepribadian tidak kurang pentingnya daripada pembentukan intelektual. Hidup rohani perlu dipupuk, tata-tertib dan disiplin merupakan sarana pendidikan utama.

Tugas pertama kedua pelopor itu ialah membereskan gedungnya. Selama perang dan revolusi, Panti Asuhan itu dipakai tentera Jepang dan Belanda. Kemudian didiami TNI dan keluarganya. Gedungnya belum siap, ketika pada tanggal 27 Agustus, ke-20 murid yang pertama datang. Enambelas dari Tapanulli, dua dari Simalungun, dua lagi dari Tanah Karo.

Tahun ajaran dibuka dengan Perayaan Ekaristi pada jam enam pagi. Setengah delapan lonceng Seminari berdentang untuk pelajaran pertama. Seminari Menengah Vikariat Apostolik Medan resmi dimulai. Tanggalnya 1 September 1950.

Tetapi setelah dua minggu ternyata kesulitan-kesulitan lebih besar muncul tanpa diduga direktur dan prefeknya. Keduapuluh murid yang pertama itu tidak diseleksi, tidak ditest sebelumnya. Siapa saja yang mau jadi pastor diterima, asal ada persetujuan orang tua, voorhanger dan guru sekolah. Ada siswa yang berumur 14 tahun, ada yang berumur 20 tahun.
Ada yang tamat SD, ada yang tamat kelas satu atau kelas dua SMP. Bahkan ada yang sudah pernah belajar di OVVO (Opleiding Voor Volksonderwijzers), sejenis sekolah pendidikan guru. Semua anak ini masuk generasi perang, generasi revolusi. Belum bisa belajar dengan tertib, tidak tahan disiplin yang ketat.

Dua minggu kemudian pelajaran macet. Direktur membanting stir. Murid disuruh mengikuti SMP di kota. Hanya Latin, agama dan liturgy dipelajari di rumah. Belajar Latin amat payah karena tidak ada buku Latin-Indonesia. Buku yang dipakai Latin – Belanda (kuda = paard = equus; gadis = meisje = puella). Duabelas kali seminggu siswa belajar Bahasa Belanda supaya dapat belajar Latin.

Akhir Oktober diambil keputusan yang radikal. Semua murid, kecuali yang sudah belajar di OVVO, akan belajar di Seminari saja, semua setingkat, tingkat Probatorium. Dapat dibayangkan kekecewaan murid yang sudah tamat kelas satu atau kelas dua SMP. Suasana makin memburuk antara murid: tidak mau belajar dengan sungguh-sungguh, rindu ke kampung, menggerutu tentang makanan yang kurang daripada yang diharapkan di rumah pastor. Tentu, makanan sederhana, sesuai dengan uang asrama dan uang sekolah yang Rp. 15 sebulan, tambah 25 sen sebulan untuk kitab tulis, sabun dan tapal gigi. Makanan sederhana tetapi menunya disusun atas advis seorang dokter. Tidak ada pemberontakan yang terbuka. Tidak lama kemudian dua siswa meninggalkan Seminari. Sehari-harian kedengaran keluhan: lesu, lapar, pastor di kampung lebih baik daripada pastor Seminari. Suasana yang keruh ini berlangsung terus sampai Natal. Habis pesta Natal, wajah siswa mulai cerah kembali.

Dari awal mula siswa diharuskn bekerja bakti. Kebun sayur dan pekarangan dirawat, kamar makan dan kamar tidur dibersihkan. Tiap hari ada kerja bakti, diawasi direktur sendiri. Kerja bakti ini dipandang sebagai sarana pendidikan yang penting. Pastor pribumi nanti harus sederhana, dekat pada rakyat yang mengayunkan cangkul.

Untuk mencukupi tenaga pengajar, guru dari luar datang ke Seminari untuk mengajar. Frater Ranulfo mengajar menggambar, Pastor Vogdt memberi pelajaran Bahasa Indonesia, Fidelis Lies, seorang mantan seminaris, diminta memberi Bahasa Indonesia juga.

Waktu libur Natal dan Paska siswa tinggal di Seminari. Pulang ke kampung terlalu mahal. Untuk mengisi waktu diadakan ekskursi di Tabing, lapangan terbang Padang, dan ke Indarung, pabrik semen. Mulai semester kedua, semangat siswa bertambah baik. Keluh-kesah mereka tidak kedengaran lagi, tata-tertib mulai dihargai, selera kerja bangkit, sana-sini malahan tanda kesalehan mulai nampak. Ditulis direktur dalam buku arsipnya: “Doa umat Katolik untuk Seminari mulai menghasilkan perkembangan yang ajaib dalam siswa kita.”

Demikianlah tahun pertama yang amat berat ini berakhir dengan nada yang optimis.

Tanggal 30 Juni 1951 Pastor Crispinianus Theeuwes OFMCap tiba di Padang untuk memperkuat staff Seminari. Crispinianus Theeuwes ini seorang tenaga ahli. Sudah 14 tahun beliau bekerja di Seminari Kapusin di Nederland sebagai guru dan prefek.

Tahun ajaran kedua mulai dengan 15 murid di Probatorium, 17 di kelas satu, 1 di kelas 2. Diantara murid yang baru adalah Alfred Gonti Datubara, yang, di kemudian hari, menjadi Uskup Agung Medan. Crispinianus Theeuwes seorang prefek kawakan. Ini terus nampak dari berbagai kegiatan murid. Dengan pertolongan Frater Ranulfo didirikan perkumpulan pandu di Seminari. Semua siswa masuk. Tiap hari Kamis mereka berkumpul untuk memainkan permainan-permainan khas yang digemari pandu di seluruh dunia. Bermacam ketrampilan dipelajari: mengirim kabar dengan tanda-tanda morse, memasak, memberi pertolongan pertama kalau ada kecelakaan. Ongkos kegiatan-kegiatan itu dibayar dengan merangkaikan rosario dan hasil karya tangan lain yang dijual. Untuk anak Seminari yang masih kurang terbentuk, gerakan kepanduan ini menjadi sekolah tata-tertib, ketaatan, kejujuran, ketelitian.

Untuk pesta Natal dibangun kandang Natal yang istimewa. Yesus lahir di kolong rumah adat Batak. Rumahnya dibangun dengan sangat teliti, dindingnya diukir, dicat dengan ketiga warna tradisional: merah, hitam, putih. Pada awal 1951 mulai tradisi yang di kemudian hari menjadi cirri khas Seminari: murid main sandiwara. Sandiwara yang pertama berjudul: “
Natal bagi Semua Orang”, satu-satunya teks drama Indonesia waktu itu. Pertunjukan yang pertama di ruangan tidur, yang kedua di aula Katedral Padang. Penonton puas, pemain bangga. Sutradara, direktur sendiri, ketawa puas.

Pada tanggal 3 Februari mulai satu tradisi lagi. Murid Seminari pergi berenang ke “Teratai”, kolam renang kota. Ongkosnya Rp. 1 – perbulan. Pada tahun baru terjadi sesuatu yang …. alangkah sayangnya untuk murid …. tidak menjadi tradisi. Dari kas Seminari setiap siswa diberi hadiah tahun baru sebesar Rp. 2.50,- yang, menurut catatan di buku arsip, terus dihabiskan untuk suatu konsumsi extra.

Tanggal 22 Mei tahun ajaran selesai. Siswa naik kapal KPM Siaoe ke Sibolga. Dari Sibolga naik bus ke kampung. Direktur dan staff makin percaya diri. Tahun yang kedua lebih berhasil daripada tahun yang pertama. Seminari mulai berbentuk.

Sementara itu telah diputuskan Congregation Propaganda Fidei di Roma bahwa daerah Sumatera Barat akan dipisahkan dari wilayah Vikariat Apostolik Medan, dan menjadi Praefectura Apostolica Padang. Seminari Menengah, milik Vikariat Apostolik Medan, harus dipindahkan ke Sumatera Utara. Tempatnya belum ditentukan. Mula-mula diusulkan Brastagi. Akhirnya diputuskan bahwa Pematangsiantar tempat yang paling sesuai. Berkat relasi yang baik dengan pemerintah kota Pematangsiantar, Keuskupan Medan berhasil membeli sebidang tanah seluas 8 hektar di Jalan Lapangan Bola Atas untuk membangun sebuah Sekolah Pastor dan sebuah rumah sakit Katolik. Staff Seminari mulai merencanakan gedung yang baru untuk 150 siswa.

Tahun ajaran yang ketiga mulai dengan 36 siswa. Staffnya diperkuat dengan tiga orang yang baru. Bruder Nocenti SX menjadi pembantu sementara. Pastor Theodoricus Schrijver OFMCap. mulai tugasnya sebagai prefek dan ekonom. Bruder Deogratias OFMCap. akan mengurus ternak dan membantu prefek.

Tanggal 1 September tentara yang terakhir dengan keluarganya dan enam kudanya meninggalkan kandang sapi di pekarangan Seminari. Tulis direktur dalam buku arsipnya: “Gangguan yang terus-menerus ini telah berakhir”. Bulan Oktober Seminari dikunjungi Duta Vatikan, Mgr de Jonghe d’Ardoye. Beliau disambut dengan meriah dan berpidato dalam bahasa Latin tentang ketiga unsur yang utama dalam pendidikan seorang seminaris: pietas (kesalehan), sapientia (kebijaksanaan), disciplina (tata-tertib).

Pada awal tahun ajaran yang keempat, diambil keputusan yang turut menentukan Seminari untuk masa depan. Kurikulum dirobah sedemikain rupa hingga pada akhir kelas tiga murid dapat mengikuti ujian SMP pemerintah, dan pada akhir kelas enam, ujian SMA yang resmi. Keputusan ini diambil atas anjuran Pastor Ferrerius van den Hurk, yang pada saat itu menjabat Superior Kapusin dan wakil Mgr. Brans, uskup Medan.

Bulan Desember pesta perak Pastor Wendelinus Willems dirayakan. Dua sandiwara lucu dipentaskan: “Pastor Bandar Ribut” dan “R.R.I. Radio Raksasa Istimewa”, karangan prefek Crispinianus dan direktur Bernardinus.

Bulan Desember gambar Seminari yang baru, yang direncanakan staff, disetujui Mgr. Brans. Bulan Juli 1954 untuk pertama kalinya, sepuluh siswa Seminari ikut ujian SMP pemerintah. Semuanya lulus dengan angka yang baik. Siswa mulai bangga atas Seminarinya.

Tahun ajaran 1953-1954 mulai dengan 60 siswa. Dalam buku arsipnya direktur menulis: “Siswa kita bertambah banyak. Semoga mereka bertambah saleh juga”. Nama kelas diganti dengan nama yang khas untuk sebuah Seminarium Minus: Prima, Secunda, Tertia, Grammatica, Syntaxis, Poesis, Rhetorica. Kelas persiapan diberi nama Probatorium.

Bulan November dirayakan pesta perak Direktur. Seminari menjelma menjadi “Kota van de Laar”, dengan hotel, restaurant, kedai kopi dan penjara.

Ada wali kota, ada polisi, ada penjahat. Ramai sepanjang hari di pasar malam. Pada malam hari dipentaskan “Riwayat hidup Pastor van de Laar” dan beberapa lelucon yang dibawakan kelas Syntaxis. Tamu-tamu kagum atas kreativitas siswa Seminari.

Bulan Februari mulai suatu tradisi lagi. Siswa berjalan kaki 50 kilometer untuk melihat bunga raksasa “Raflesia Arnoldiana”. Kaki sakit, hati senang. Sementara itu gedung Seminari yang baru di Pematangsiantar hampir selesai. Perlengkapan Seminari di Padang dipetikan dan dikirim ke Pematangsiantar dengan enam mobil truk.

Tanggal 12 Juni murid berangkat untuk berlibur panjang. Minggu berikutnya staff berangkat. Direktur berangkat paling akhir. Masa Padang telah lewat. Masa Pematangsiantar mulai. Direktur menulis dalam buku arsipnya: “Procedemus in Pace”, Mari kita maju dengan damai.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: