Botou…., oh Botou….

Minggu, 26. Oktober 2008 pukul 8:01 | Ditulis dalam Berita | 1 Komentar

Minggu, 26 Oktober 2008, malam ini di aula Universitas HKBP Nommensen sebuah kisah tragis akan terulang lagi setelah tahun sebelumnya digemparkan oleh pembunuhan yang didalangi Guru Saman. Malam ini, akan dikisahkan lagi riwayat seorang gadis cantik yang selalu dirundung kesedihan akibat ulah botounya dan akhirnya menjelma menjadi sebatang pohon enau. Puang Boru Sobou,  sebuah pementasan opera Simalungun yang dipentaskan berdasarkan turi-turian Simalungun.

Selain menampilkan kebolehannya dalam mementaskan drama karya sutradara Kh. Ibra Harahap ini, para seminaris juga akan mempertunjukkan jiwa seninya melalui seni musik yang ditangani oleh bapak Panjotik Silaen dan bapak Fernandus Sinaga. Hmmm, bagi anda yang gemar marmitu, akan ada sebuah kejutan bagi anda nanti malam. Apa kejutannya? Yang jelas jika sudah diberitahu sebelumnya pasti bukan kejutan lagi namanya.

Jadi, bagi anda para pencinta budaya, khususnya budaya Simalungun, malam ini Seminari Menengah Pematangsiantar Christus Sacerdos, yang didukung oleh SMA Budi Mulia dan SMA Bintang Timur , akan mencoba memuaskan dahaga anda akan kehadiran budaya tradisional.

Selamat menyaksikan persembahan kami, horas ma bai na siam!!! (paunk)

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. saya sangat kagum dan bangga dengan kawan-kawan dalam pementasan drama Hari Minggu yg lalu. Kalian beruntung punya kesempatan seperti ini. kami dulu tidak ada. paling-paling drama kolosal saja. good.
    kalau boleh saya beri kritik atau saran mengenai pementasan itu.
    1. lighting nya masih kacau. saya mengira bahwa semua skenario drama telah dikuasai oleh sang lighter. rupanya banyak adegan yang tidak tampak dan ada adegan yang harusnya tidak tampak menjadi kelihatan.
    2. soundnya jelek. banyak penonton yang merasa kecewa karena kurang dapat menangkap. saya juga merasa demikian. jangan sampai hal ini terjadi, karena bisa mengurangi minat penonton di kemudian waktu.
    3. naskah/skenario hendaknya disusun secara kontekstual. pemakaian bahasa (kalau bahasa daerah) harus tepat. saya sendiri merasa risih mendengar bahasa simalungun diucapkan dengan tidak tepat. lebih baik dengan bahasa indonesia saja.
    4. pengolahan acara sebelum pementasan sangat baik. lagu-lagu dengan variasi baru, dan slide/film yang menarik. sangat cocok untuk aksi panggilan di zaman audio visual / multimedia ini.

    horas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: