SAJIAN UTAMA: MENCARI MAKNA KEKERASAN

Senin, 29. September 2008 pukul 16:20 | Ditulis dalam Lembaga Majalah Seminari, Opini | 1 Komentar

MENCARI MAKNA KEKERASAN

 

            Sejenak kita mendengarkan kata kekerasan, pasti akan timbul rasa takut bukan? Hal ini wajar-wajar saja, karena kekerasan itu merupakan hal yang begitu kejam, sadis, dan tidak bermoral. Horns Valley dari Perancis mengatakan “Kekerasan itu merupakan tindakan yang melanggar agama”. Saya rasa bukan hanya agama, tetapi ada juga hal lain seperti hukum, kebiasaan baik, dan pendidikan. Dan juga kekerasan itu bersifat sadis, melanggar norma, dan menantang unsur-unsur kehidupan manusiawi. Kerap kali orang mengatakan kekerasan yang bersifat sadis hanya terjadi di IPDN, saya rasa hal ini sudah basi, karena bukan hanya di IPDN terjadi kekerasan. Baik itu rumah tangga, kampus, sekolah-sekolah Menengah Atas maupun SMP dan SD, bahkan di tengah-tengah masyarakat pasti terdapat hal yang berbau kekerasan.

            Kekerasan di dunia ini telah berakar luas, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah bahkan sampai ke lingkungan luas. Hal ini dapat terjadi karena adanya beberapa hal yang yang mungkin terjadi, seperti:

  1. Adanya kesalahan jiwa
  2. Adanya sifat membalas dendam
  3. Prestise
  4. Jabatan
  5. Pendidikan yang tegas
  6. Kesabaran yang habis
  7. Kesenangan yang semesta

Dari beberapa hal di atas dapat saya simpulkan bahwa, kekerasan terjadi dari hal hal yang bersifat manusiawi. Kerap kali, kekerasan itu terjadi di lingkungan keluarga dan sekolah. lihatlah di negara yang kita cinta ini, seringkali terjadi kekerasan kepada anak di bawah umur. Sebenarnya anak-anak itu dididik dengan penuh kasih sayang bukan dengan kekerasan. Jika hal ini terjadi secara meluas, boleh dikatakan akan banyak anak di bawah umur yang kerusakan mental maupun fisik.

Sekolah bukanlah mendidik kekerasan tetapi pendidikan yang berguna bagi nusa dan bangsa. Di samping itu, kita harus mengingat bahwa tidak selamanya kekerasan itu bersifat buruk ada juga yang bersifat baik, seperti: Dalam lingkungan penjara, napi yang begitu jahat pantas diberi kekerasan agar kelak ia berubah, dalam kekerasan juga dapat membuat seseorang menjadi disiplin, sopan, bermental baja.

Ada baiknya kekerasan itu dilakukan dalam hal-hal yang positif bukan ke dalam hal negatif, agar kita tidak terjerumus dalam kesengsaraan. Tetapi jika kekerasan itu bersifat hal yang negatif seperti menyiksa, membunuh, melecehkan, dan menodai, ada baiknya diperhatikan 3 sikap yang harus dikuasai agar tidak terjadinya kekerasan yang meluas, yakni:

1.      Emosi

Ini merupakan sikap yang harus kita kuasai dalam hal mendidik. Emosional kita jangn digunakan pada hal yang kurang baik, kuasailah tingkah laku agar tidak diselubungi sikap apatis.

2.      Kesabaran

            Sabarlah dalam suatu hal, jika kita sabar pasti akan berhasil mendidik, jangan terlalu terbawa aura jiwa, apalagi jiwa-jiwa yang masih muda, pasti akan mudah marah atau emosi. Sebaliknya kita harus sabar baik itu dalam hal yang buruk sekali pun.

3.      Rela berkorban

            Jika kita adalah seorang manusia bermoral, pasti akan memiliki rasa kasihan, atau rela berkorban. Sebaliknya hal ini dilakukan agar tidak terjadi kekerasan,

            Jika kita menguasai 3 hal di atas pasti akan terjadi kedamaian bukan kesengsaraan.

 

 

By: Lambok  D Tampubolon

Probatorium A  007/2008

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Menurut saya, kekerasan hanya akan membawa masalah, tidk pernah akan menyelesaikan suatu masalah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: