PENDIDIKAN DAN PEMBINAAN SEMINARIS KE DEPAN

Jumat, 8. Juni 2007 pukul 21:02 | Ditulis dalam Artikel, Lembaga Majalah Seminari | 2 Komentar

RENUNGAN

Seminari Menengah dalam Sejarah Gereja

Konsili Trente dan Vatikan boleh dianggap sebagai konsili yang paling menentukan sejarah perjalanan Gereja Katolik Roma. Konsili Trente yang sebenarnya diadakan untuk mengantisipasi dan membahas gerakan Reformasi Protestan justru memutuskan banyak hal dalam bidang ajaran dan tata tertib hidup menggereja yang tidak diakui para reformator. Salah satu ajaran hakiki Gereja Katolik yang tidak diakui oleh Protestan ialah ajaran tentang sakramen Imamat. Imamat dalam Gereja Katolik tentu berkaitan dengan pembinaan sehingga seseorang pantas mendirii imamat tersebut. Seminari berada di tengah Gereja justru ada membahas persoalan imamat.

Pemahaman Konsili tentang Seminari tidak dapat dipisahkan dari ajarannya tentang imamat. Menyadari begitu penting peran imam dalam Gereja, maka perlu suatu displin, program dan langkah yang jelas bukan hanya dalam cara hidup imam tetapi juga dalam formasi atau pendidikan calon-calon imam. Dengan tepat bisa dikatakan bahwa Konsili Trente telah mereformasi pendidikan calon imam dengan mengeluarkan satu dekrit khusus tentang itu: De Reformatione yang disahkan pada tanggal 15 Juli 1563.

Konsili Trente merupakan konsili pertama yang mengaturkan untuk seluruh Gereja Katolik bahwa pendidikan imam harus melalui Seminari. Konsili melihat pentingnya kesatuan dalam hal ini; sekaligus diharapkan bahwa pembaharuan akan menghasilkan imam-imam yang tangguh dalam menghadapi dunia yang semakin bobrok dan gerakan para bidaah dan reformator. Seluruh isi dekrit tentang Seminari dalam konsili didasarkan pada upaya melindungi dan menjaga calon-calon yang masih sangat muda dari ancaman dunia dan para reformator. Oleh karena itu, para calon diisolasi dari kedua jenis ancaman itu, dilindungi dan dibentengi dalam Gereja. Dengan metode ini diharapkan bahwa calon-calon imam ini akan terbebas dari pengaruh roh duniawi dan reformator. Para calon-calon imam diharapkan menjadi manusia yang kudus, suci dan mempunyai pikiran yang jernih dari segala macam ajaran palsu sebagai seorang pejabat Gereja. Maka dengan jelas, Seminari (baik Seminari Tinggi maupun Seminari Menengah) dibentuk dalam kerangka untuk mendidik seseorang yang bercita-cita menjadi imam.

Sudah sejak dulu disadari bahwa bibit panggilan sering sudah ada dan tampak pada anak yang masih sangat muda. Sudah sejak lama (Perjanjian Lama – Kitab Samuel) seorang anak yang dipanggil dipisahkan dari orang-tuanya untuk dididik menjadi pelayan di tempat yang kudus. Pemisahan ini bertujuan untuk memupuk dan mematangkan panggilan yang sudah ada.

Yesus Kristus adalah model untuk setiap Seminaris. Dia yang adalah Allah diutus ke dunia untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia dengan mewartakan Kerajaan Allah. Sebelum melaksanakan misi luhur tersebut Yesus menjalani masa persiapan/pendidikan khusus. Sejenis Seminari: tinggal dan hidup secara tersembunyi di rumah sederhana di Nasareth. Ia mempersiapkan diri dalam doa dan pekerjaan di bawah bimbingan Allah dan orang-tuanya. Di bawah bimbingan Joseph yang penuh cinta dan kebapakan, dan kekudusan, kelembutan serta keibuan Maria, “Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia (Luk 2:52).

Seminari menengah harus mengarahkan dan menolong calon yang masih sangat muda untuk memahami pentingnya panggilan melalui pengalaman pribadi, dan untuk sampai pada pilihan bebas memeluk cara hidup khusus ini atau tidak. Seminari Menengah bukan terutama tempat di mana calon-calon mendapat kepastian akan panggilannya, tetapi lebih sebagai tempat untuk mempelajari tanda-tanda panggilan yang sebenarnya dengan bantuan Pembina.

Masa Depan Seminari Menengah Christus Sacerdos

Optatam Totius artikel 3, salah satu dokumen Gereja yang berbicara tentang Seminari Menengah menyatakan: Di Seminari-seminari menengah, yang didirikan untuk memupuk tunas-tunas panggilan, para seminaris hendaknya melalui pembinaan hidup rohani yang khas, terutama dengan bimbingan rohani yang cocok, disiapkan untuk mengikuti Kristus Penebus dengan semangat rela berkorban dan hati yang jernih. Hendaknya mereka di bawah bimbingan para pemimpin yang penuh kebapaan, dengan kerjasama para orang-tua yang sangat membantu, menjalani hidup yang cocok dengan usia, mentalitas dan perkembangan kaum muda, serta sesuai sepenuhnya dengan prinsip-prinsip psikologi yang sehat. Sementara itu, hendaklah diperhatikan juga pengalaman-pengalaman manusiawi secukupnya serta hubungan biasa dengan keluarga mereka. Kecuali itu semuanya, yang selanjutnya dalam dekrit ini ditetapkan tentang Seminari Tinggi, hendaknya-sejauh cocok untuk tujuan maupun metode pendidikan di Seminari Menengah-disesuaikan dengannya pula. Studi yang harus ditempuh oleh para seminaris harus diatur sedemikian rupa, sehingga mereka tanpa dirugikan dapat melanjutkannya ke tempat lain, sekiranya kemudian memilih status hidup yang lain.

Dari paparan dekrit Optatam Totius artikel 3 ini jelas terungkap bahwa hendaknya para seminaris, unggul dalam beberapa hal yakni: unggul dalam bidang intelektual, unggul dalam emosional dan unggul dalam hidup religius. Seminari Menengah Christus Sacerdos menjawab harapan Gereja di atas dalam seluruh program pembinaan dan pendidikan yang telah dilaksanakan selama ini dalam modus operandi-formation di Seminari Menengah.

Untuk menjawab isi Optatam Totius tersebut, tanggal 6-8 Pebruari 2007, Seminari Menengah menyelenggarakan Lokakarya yang khusus menggeluti arah pendidikan dan pembinaan seminaris ke depan. Dalam pergumulan ide selama 3 hari itu, ditetapkanlah arah pendidikan dan pembinaan Seminari Menengah Christus Sacerdos masa depan. Arah ini dituangkan dalam visi dan misi Seminari Menengah ke depan yang berbunyi sebagai berikut:

Visi

Seminari Menengah adalah wadah pembinaan orang-orang muda yang tampak memiliki bibit panggilan menjadi imam, untuk dibimbing menjadi pribadi yang seimbang dan unggul di bidang jasmani dan rohani, emosional dan intelektual, sehingga memiliki dasar yang kuat untuk menjawab panggilan hidupnya.

Misi

1. Meningkatkan mutu pendidikan Seminari Menengah sebagai wadah pembinaan orang-orang muda yang tampak memiliki bibit panggilan imam.

2. Membangun wawasan keunggulan sebagai etos Seminari Menengah.

3. Menciptakan dan mengembangkan kondisi yang mendukung keseimbangan unsur-unsur kepribadian.

4. Mengembangkan kegiatan rohani, kurikuler, ekstrakurikuler, lomba dan kegiatan sekolah yang relevan, konstekstual dan bermutu.

Muatan visi dan misi ini kiranya menekankan empat keunggulan seorang seminaris setelah mengalami pembinaan dalam formation Seminari Menengah yakni unggul dalam intelektual, unggul dalam emosional, unggul dalam hidup religius dan unggul dalam kepribadian.

Seminaris kiranya unggul secara Intelektual

Unggul secara intelektual maksudnya bahwa seorang seminaris mempunyai kelebihan yang sungguh signifikan dalam kemampuan intelektual bila dibandingkan dengan anak muda seusianya yang non seminaris. Seminaris hendaknya mampu menelaah, menganalisa suatu masalah. Seminaris dengan kemampuan intelektual yang mumpuni mempunyai daya pikir yang tajam, mampu belajar otodidak dll. Penyelenggara pembinaan dan pendidikan Seminari Menengah sekarang ini sungguh berupaya agar para seminaris dapat mencapai cita-cita ini. Saat ini guru-guru diberi kesempatan yang sungguh luas untuk memperdalam dan memperluas ilmu yang menjadi keahliaannya dengan mengikuti berbagai kursus, studi banding, membeli buku-buku, upgrading. Para guru dibekali bagaimana cara mengajar yang aktif dengan mendatangkan ahli-ahli pendidikan. Kurikulum diperbaharui. Guru-guru harus mampu menyusun satuan mata pelajaran sendiri. Guru-guru dituntut untuk menguasai IT (informasi dan tehknologi). Mendatangkan tenaga guru dari luar negeri bagi para murid. Seminari Menengah menyediakan fasilitas yang sangat memadai; perpustakaan buku yang cukup lengkap, laboratorium bahasa dan kimia yang cukup memadai, komputer dan internet. Guru yang kreatif akan memacu siswa juga kreatif. Semuanya ini diharapkan mampu menciptakan seorang siswa Seminari yang unggul dalam intelektual.

Seminaris harus unggul dalam emosional

Keunggulan siswa dalam emosional akan menunjang keberhasilan siswa dalam belajar dan hidup. Unggul secara emosional maksudnya bahwa siswa mampu untuk mengatur disposisi batin, siswa mampu untuk bekerjasama. Siswa yang unggul secara emosional akan mampu berdiskusi, akan mampu menerima dan menghidupi kritik, akan mempunyai daya juang yang tinggi dan pantang putus asa. Siswa yang matang secara emosional akan mampu hidup menderita, hidup dalam suasana sukacita.

Seminaris harus unggul dalam hidup religius

Hal ini memang harus menjadi satu keunggulan seminaris yang diharapkan menjadi pemimpin umat kelak. Maka dalam hal ini, seminaris mempunyai keniscayaan mempunyai nilai lebih dari yang lain. Untuk mendukung keunggulan ini, Seminari Menengah memfasilitasi siswa dengan berbagai macam kegiatan. Misa setiap hari, lectio brevis satu kali dalam seminggu, bacaan rohani, retret dan rekoleksi, latihan meditasi, kerasulan anak sekolah minggu dan doa lingkungan, pengakuan dosa, berkunjung ke tempat-tempat wisata rohani, menulis refleksi harian. Melalui seluruh kegiatan ini, siswa diharapkan akan mempunyai rasa religius yang tinggi. Keunggulan ini tampak dalam rasa empati yang tinggi, pengorbanan terhadap orang lain, kemauan untuk saling meneguhkan dalam panggilan, keterbukaan untuk berbagi hidup, kemampuan untuk mensyukuri, sikap ikut serta menderita bersama teman.

Ketiga dimensi keunggulan ini harus seimbang dalam hidup Seminaris sehingga Seminaris akhirnya unggul dalam kepribadian. Inilah mimpi Seminari Menengah ke depan!!!! Semoga cita-cita ini semua tidak hanya mimpi tetapi menjadi sebuah kenyataan. Dengan ini diharapkan Seminaris mampu menjadi pemimpin yang unggul, visioner, pemimpin yang saleh di masa depan. Gereja pun akan semakin jaya bila pemimpinnya dapat diandalkan!

 

Sdr. Venantius Qwei, Staff Seminari Menengah

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. […] Sdr. Venantius Qwei, Staff Seminari Menengah P. Siantar […]

  2. Selamat pagi, saya mohon izin untukmengcopy “Seminari Menengah dalam Sejarah Gereja” untuk dimuat di majalah Duta Keuskupan Agung Pontianak.Saya adalah staff pengajar di Seminari Menengah St. Paulus Nyarumkop-Singkawang Kalimantan Barat.

    Salam & hormat,

    Andreas Oyent.
    email: andre_oynt@yahoo.co.id
    Hp. 081345565971


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: