KRONIK…..

Jumat, 8. Juni 2007 pukul 21:46 | Ditulis dalam Arsip, Berita, Lembaga Majalah Seminari, Umum | 2 Komentar

“Yahowu…, Menjuah-juah…, Horas…, Anai leu sita…! Hai kawan-kawan semua, seperti biasa kami: Bukor, Bokir dan Baker datang untuk menemani Anda sejenak dengan aneka kisah kasih dalam rubrik ini….

06 Januari 2007

Dengan waktu yang berbeda, Bokir, Bukor, Baker bersama temannya yang lain berjalan sambil bercerita memasuki gedung besar, yang tak jarang dikenal sebagai Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar. Mereka membawa masing-masing sebuah tas menggantung di pundaknya. Terjemahan bebasnya: setelah libur akhir semester I, para seminaris yang berhasil survive sampai semester II pulang untuk melanjutkan perjuangan mereka di Seminari, demi memenuhi panggilan hidup menjadi imam.

Makhluk-makhluk penghuni gedung ini tampaknya panggilannya sedang berbunga-bunga setelah pulang dari rumah (kampung halaman) masing-masing. Masing-masing dalam hatinya sudah terpatri target yang harus dicapai dan diperjuangkan dalam semester II ini. Tak terkecuali Bokir, Bukor dan Baker.

20 Januari 2007

Baker dan Bukor sedang mencari Bokir karena frater-frater dari TOR St. Markus telah tiba di Seminari, Bokir harus melakukan sesuatu. Para seminaris tampaknya sedang gembira. Mengapa? Jawabnya, tak lain dan tak bukan, karena hari ini libur. Wah! Enak nih. Udah libur, ada pertandingan olah raga bola kaki pula. Mungkin karena ini pula, tim Seminari bisa menang dari frater-frater dari TOR St. Markus.

06-09 Februari 2007

Hari ini adalah salah satu hari yang paling ditunggu-tunggu oleh para seminaris, khususnya bulan ini. Mengapa tidak, retret selama 3 hari ini adalah kesempatan untuk memperbaiki gizi, merilekskan pikiran, merenggangkan otot, dan tak lupa merenung…

Ketiga sahabat, Bokir, Baker dan Bukor, bersama menenteng tas bersiap menuju tempat retret mereka. Hanya saja tidak semua memperoleh kesempatan untuk retret ke luar Seminari. Yang diizinkan retret ke luar dari Seminari hanyalah kelas Syntaxis dan Poesis, lainnya tidak.

09-10 Februari 2007

Tak bisa dipungkiri, setelah retret, kegiatan ini adalah kegiatan yang paling tak akan terlupakan: LONG MARCH. Seperti biasa para seminaris berangkat pukul 00.00 tepat, tiap angkatan menuju tujuan yang telah ditentukan masing-masing. Mulai detik itu para seminaris dibiarkan terlantar dan menentukan sendiri jalan hidupnya. Apa sih tujuan kegiatan yang sangat memboroskan tenaga ini? Siapa yang akan menyangka, tujuan ini adalah kesempatan untuk belajar. (Ha? Waktu long march masih belajar?) Belajar mengenal teman (kesetiakawanan), belajar menapaki jalan hidup panggilan.

“Kir… kamu nangis ya? Ada apa Kir? Kir…Bokir…ku!” Bukor mengguncang-guncang badan Bokir.

“Nggak apa-apa Kor. Aku ha-nya terharu saja. Saat hari ulang tahunku, aku sedang dalam perjalanan 70-an km jauhnya, bersama teman-teman menempuh jalan panggilan bersama,” Bokir sok puitis.

“Hebat kamu Kor…… masa ulang tahunmu yang sekali setahun ini, kamu habisin dengan penderitaan seperti ini. Aku beri salutlah sama kamu Kor. Met ultah Kor.”

“Kalau yang ini sih udah ultah long march yang ketiga buat aku,” tersenyum mistis. Mereka tertawa bersama mengingat perjalanan masih cukup jauh ke tujuan…

17-18 Februari 2007

Kor…!,”Apa kamu udah siap nginap di rumah umat?” Bukor tertawa, dengan penuh semangat menjawab pertanyaan Bokir.Ya so pastilah, malam mingguan dirumah umatkan lebih enak daripada terus-terusan nginap di Seminari,” ujar Bukor dengan tampang gembira. seminaris hadir di Paroki Kabanjahe, kali ini seminaris membuat misi panggilan di Kabanjahe selama dua hari mulai hari Sabtu sore sampai Minggu. Menarik bukan, seminaris bermalam mingguan di Kabanjahe.

“Kor, kamu tau nggak kenapa seminaris datang ke Kabanjahe mulai Sabtu sore?” Yang pasti supaya bisa jumpa dengan mudika, areka soalnya tujuan utama kitakan panggilaan. Sr. Imelda dari kongregasi SFI datang untuk memperkenalkan Kongregasinya kepada areka/mudika yang di sana, maka jelas dong kenapa kita datang ke Kabanjahe mulai Sabtu sore.”

27-28 Februari 2007

Selasa, 27 Februari 2007

Warga Seminari boleh berbangga atas lolosnya tim Volley Seminari ke Semifinal Kompetisi bola volley tingkat Pelajar se-Pematangsiantar.

Pukul 16.30 WIB pejuang Seminari mulai menunjukkan batang hidungnya di GOR Pematangsiantar, bersiap untuk memperjuangkan almamaternya pada event ini, berhadapan dengan SMK Taman Siswa. Seakan tak mau kalah, para supporter pun bergegas menuju GOR, mendukung tim yang dibanggakan. Mungkin orang yang melihat para supporter itu bertanya dalam benaknya, “Mereka ini, ada apa ya? Koq, semuanya pada senyum?” Para seminaris sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, mengarang cerita yang tak jauh beda dengan supporter tim lain. Begitukah nantinya?

Karena satu dan lain hal terjadi sesuatu di luar dugaan tim Seminari. Pertandingan SMA SEMINARI vs SMK TAMSIS akhirnya diadakan kira-kira pukul 20.00 WIB. Kalau sudah jam segini, apa yang biasanya terjadi? Orkestra pun dilantunkan di perut. Tapi tak apa, spirit harus tetap membara!

Peluit tanda pertandingan dimulai berkumandang. Bola pertama meluncur melewati net ke daerah pejuang kita. Tak pelak lagi, didukung sorak-sorai supporter, pejuang kita memenangkan set pertama. Supporter diliputi keyakinan akan terjadi hal yang sama pada set kedua. Begitukah?

Siapa yang dapat menyangka antusiasme tersebut mulai pudar dengan takluknya tim Seminari pada set kedua.

Seakan ada yang mengatakan, kalau demikian babak kedua, mengapa tidak babak ketiga? Dengan selisih tipis pejuang kita takluk pada set ketiga.

Para pemain masuk ke lapangan tanda set terakhir segera dimulai. Tak jauh berbeda dengan set ketiga, para pejuang kewalahan dalam memberikan perlawanan yang berarti. Pada perebutan point terakhir, bola ternyata lebih memilih menjatuhkan diri di daerah pejuang kita.

Seminaris pulang ke rumah dengan harapan akan memperoleh kemenangan pada pertandingan selanjutnya.

Rabu, 28 Februari 2007

Seminaris bangun dengan harapan dapat meraih peringkat ketiga pada kompetisi volley kali ini. Gerimis sore hari Pematangsiantar tak mampu menghalangi niat para seminaris merasakan lagi atmosfir pertandingan di GOR. Semangat pantang menyerah, kurang. Semoga hal tersebut dapat diperbaiki pada pertandingan hari ini. Bokir, tetap mendukung teman-temannya lewat moril.

Beng…bromm..bong…toeet.. para supporter bersorak sambil memasuki gedung GOR dalam dua barisan. SMA Seminari berhadapan dengan STM PEMBAHARUAN merebut posisi ke-III dalam kompetisi ini. Peluit dari pinggir garis luar lapangan berbunyi seakan mendesak supaya para pejuang segera memasuki lapangan dan memulai pertandingan. Dengan penuh semangat, setiap tim melancarkan serangan keras terhadap lawannya. Supporter kedua belah pihak meraung menggetarkan lantai GOR, mendukung tim yang mereka banggakan. Pada perebutan point terakhir lagi-lagi bola seakan lebih betah berbaring di daerah juang pejuang kita, menggagalkan bertambahnya point kemenangan kita. Set selanjutnya berlangsung dengan sengit, lagi-lagi memberi selisih 1 bola untuk STM PEMBAHARUAN, menambah kekalahan kita. Supporter Seminari dengan sorak-sorai kembali coba memanaskan pejuang kita supaya terjadi penambahan set. Namun, yang terjadi Seminari harus berpuas diri duduk di posisi Harapan I. Kegelapan malam menambah kelamnya kepulangan para seminaris ke Seminari. Saat itu masih terpajang slogan di dinding sebelah dalam GOR, bunyinya, “Veni… vidi…vici…!” Masihkah? Semoga! Bokir telah berbicara!

28 Februari 2007

Hari ini, kita bisa cukup berbangga, Perpustakaan Kota Pematangsiantar bekerja sama dengan Pemerintah Kota mengadakan perlombaan perpustakaan sekolah se-Pematangsiantar tahun 2006. Juara I diraih teman kita SMK Negeri 3, juara II tentu saja SMA Seminari, juara III tetangga kita SMA Budi Mulia, Harapan I SMP Negeri 2, Hara-pan II SMK Negeri 2, dan Harapan III SMA Kalam Kudus. Ha-diahnya, Seminari berhak menerima sebuah piala dan sejumlah buku. Pada tahun 2007, Perpustakaan Seminari diikutsertakan dalam lomba perpustakaan sekolah tingkat provinsi. Penilaian akan diadakan antara bulan Maret-Agustus 2007. Ayoo… Seminari…… masih ada waktu untuk berbenah. (Ringan sama dijinjing, berat biar Bokir, Bukor dan Baker yang pikul; red)

10 Maret 2007

Pukul 16.30 WIB, kedua tim, Seminari dan Bintang Timur, bersiap unjuk taring dalam pertandingan persahabatan yang diselenggarakan OSIS Seminari.

“Baker…! Dari mana aja sich?” ketus Bokir.

“Aduh…Kir, cewe-cewe BT khan pada datang, jadi Baker khan harus siap-siap dengan penanya! Artis yang baik khan harus tahu kemauan fansnya.” jawab Baker sok serius. Dan dengan serius kedua temannya menjewer telinga Baker.

Bukan ada maksud apa-apa ketika tim juniores sepak bola Seminari berhadapan dengan tim bola sepak bola BT. Hal ini dimaksudkan untuk membentuk watak bermain mereka dengan jalan bertanding dengan tim yang lebih kuat.

Pada babak I, tim Seminari dengan tertatih-tatih mencoba menjebol dinding pertahanan BT, sampai akhirnya babak I selesai dengan skor 1 – 1. Pada babak II, kedua tim mulai kelihatan agresif dengan kreatif menggocek lawan, bahkan sampai kasar. Menit-menit yang menentukan, gawang pejuang kita dimasuki bola, hasil tendangan tim lawan. Skor terakhir 3 – 3. Berjayalah Seminari!

16-17 Maret 2007

Pukul 07.30WIB, final sayembara Seni dan Sastra dimulai. Para guru sekaligus juri serta para seminaris berkumpul di aula Alverna Seminari Menengah bersama menciptakan suasana yang kondusif dalam memulai sayembara tahun ini.

Bukor, Bokir, pun Baker ikut ambil bagian dalam final Sayembara Seni dan Sastra ini baik membawa nama pribadi maupun kelompok. Ketiganya saling memberi support satu sama lain supaya bisa menampilkan yang terbaik pada final ini.

Pada penghujung acara, P. Norbeth Ambarita, OFM. Cap., evaluator, menyampaikan hasil evaluasinya. Tanpa sungkan, beliau mengambil kesimpulan bahwa Sayembara tahun ini lebih berbobot bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Para finalis sudah berani untuk menampilkan yang terbaik, dan mampu menggunkan sarana yang tersedia semampunya. P. Erwin Manullang, OFM. Cap., rector Seminari Menengah, terus mendukung agar para seminaris terus meningkatkan kualitas pribadi maupun kelompok.

18 Maret 2007

“Tumben Baker dan Bokir bangun lebih pagi hari ini. Mau kemana kalian? Seperti maling saja, jalannya mengendap-endap gitu, omel Bukor. Langkah keduanya ternyata mengusik lelap Bukor.

“Sorry……. Kor! Kamu belum tahu Paduan Suara Cs subuh ini akan berangkat ke Brastagi?”

“Brastagi? Mimpi apa elo?” ejek Bukor. Baker dan Bokir tertawa tertahan (baca: supaya tidak mengganggu yang lain) ketika mendengar ejekan Bukor.

“Dasar kamu ketinggalan berita. Seminaris lewat ini selain melakukan aksi panggilan, juga memeriahkan misa di Paroki Brastagi. Jadi kami harus berangkat ke Brastagi sekarang. Pergi dulu ya, daaaa!” Keduanya meninggalkan Bukor yang sedang membisu sambil berbaring masih menunggu lonceng bangun berdenting.

2 bus (baca: Permosi dan Bis Cepat) melaju menembus dinginnya udara pagi Brastagi membawa di dalamnya para seminaris yang sedang berjuang melawan musuh (baca: kantuk) masing-masing.

Tepat pukul 07.45 WIB rombongan Seminari tiba di Paroki dan segera berbenah sebelum misa pukul 08.00 WIB. Misa dimeriahkan oleh koor dan musik yang dibawakan oleh para seminaris. Dalam salam penutupnya P. Norbeth Ambarita, OFM. Cap., conselebrant, menyampaikan, “Inilah anak-anak kita yang telah dididik di Seminari dalam waktunya masing-masing di Seminari. Mereka ramah, baik, berbakat seperti yang kalian lihat sendiri. Jujur saja, rasanya ada sesuatu yang kurang kalau kami datang dari Siantar tanpa membawa beserta kami seminaris yang berasal dari paroki ini. Oleh karena itu, setidaknya bawalah anak-anak kalian, biar kami benahi dan bentuk menjadi manusia yang manusiawi dan berkenan di mata masyarakat, negara, khususnya di mata Gereja (baca: Tuhan).

Dalam benaknya Bokir berniat untuk menuliskan pengalaman hari ini di diarynya nanti.

19 Maret 2007

“Imago Dei” – begitulah julukan yang pantas disandang oleh Konggregasi Suster Santo Yosef (KSSY), terlebih beliau yang berkarya di susteran Seminari Menengah ‘Christus Sacerdos’. Bukan hal yang tak patut tidak dihargai perjuangan dan pengorbanan yang telah beliau berikan kepada Seminari.

Apa sih yang memotivasi beliau-beliau sehingga rela berkorban dan memberi diri sampai sejauh ini? Ketika ditanya seperti ini, beliau menuturkan beberapa patah kata yang jika direnungkan begitu dalam maknanya. “Karena cinta akan Yesus-lah yang membuat kami bertahan sampai sejauh ini,” tutur Imago Dei.

22 Maret 2007

Bokir dan Bukor, berangkat menuju lapangan basket Sultan Agung, meski langit sore berwajah muram. Pertandingan basket yang akan diadakan di sana merupakan pertandingan terakhir yang diikuti Seminari dalam kompetisi Sultan Agung Cup event ini.

Suatu kali Bukor menyapa Bokir dengan tampang sedih, “Pertandingan terakhir ya, Ker!” Bokir menatap wajah Bukor, “Hei, Kor! Koq pesimis banget sih loe? Optimis donk! Meskipun ini pertandingan terakhir, kita harus tetap memberikan yang terbaik, bukan? So, kembangkan senyum dan berusaha!” demikian kata Bokir dengan wajah bercahaya. Bukor terperangah dan tak pernah menyangka Bokir bisa seperti ini. Mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri.

Ternyata apa yang baru saja dikatakan oleh Bokir bukan isapan jempol belaka. Buktinya dengan perjuangan yang sengit, pertandingan antara SMA Seminari dengan SMA Dipenogoro skor terus bertambah ke pihak Seminari dan berakhir dengan skor 42 – 35. Seminari menang!

31 Maret – 18 April 2007

Tak ada hari yang paling ditunggu selain hari ini, 31 Maret 2007. Mengapa? Untuk pertama kalinya dalam sejarah berdirinya, Seminari mengadakan libur PASKAH. Wah…! Paskah kali ini bakalan menjadi Paskah yang tak terlupakan bersama keluarga dan teman. Wajah para seminaris menunjukkan kegembiraan tak terhingga, dengan semangat mereka melakukan persiapan pulang. Bukor, Bokir dan Baker tidak terkecuali, ketiganya saling merangkul dan berharap supaya tidak ada dari mereka yang lupa jalan pulang ke Seminari. Ha… ada-ada saja mereka ini.

02 Maret – 16 Maret 2007

Dua puluh satu orang (21) staff dan guru Seminari ditambah dengan guru-guru dari yayasan St. Laurentius dan SMA + SMK Assisi Pematangsiantar mengadakan pelatihan cara belajar aktif.

Pelatihan ini menghadirkan empat (4) pakar dari Jawa, yang seluruhnya dibiayai oleh Bpk. Herman Sinaga, alumnus Seminari Menengah Christus Sacerdos.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut atas loka karya ‘Arah dan Pembinaan Calon Imam di Seminari Menengah Pematangsiantar,’ yang diadakan pada bulan Februari 2007. Diharapkan lewat pelatihan ini, para guru Seminari menjadi lebih kreatif menggunakan metode-metode mengajar, sehingga para seminaris lebih bergairah dalam belajar. Pelatihan ini sekaligus menjadi persiapan menyusun kurikulum Seminari. Semoga Seminari semakin maju!

14 April 2007

Baker yang timnas bola kaki dengan semangat melakukan pemanasan bersama anggota tim. Dari luar garis lapangan, Bokir sedang kepayahan membawakan tong air minum (barang antik Seminari; red), melayani para pemain.

Saat ini adalah momentum yang paling tepat untuk menguji sejauh mana kemampuan tim juniores. Sore ini seperti yang telah disepakati, Seminari akan bertanding dalam olah raga bola kaki melawan tim asuhan pelatih, Bapak Parlindungan Pasaribu. (pertandingan saudara sepeguruan, dengan beberapa pengcualian) Seniores, juga bersiap-siap bila dibutuhkan pada waktunya.

Di luar dugaan, tim lawan ternyata cukup kuat. Tunggu dulu! Para juniors yang diturunkan lebih dahulu pun berusaha semampunya memberikan perlawanan yang cukup berarti bagi mereka. Tim seniores terpaksa diturunkan untuk mengejar ketertinggalan sampai pertandingan berakhir dengan skor 2 – 2. Baik!

21 April 2007

Wao…..…, kali ini Bukor and Bokir punya pengalman yang paling berkesan. Tepat pukul 18:00 WIB, Seminaris siap menuju Aula Nomensen. Kor…,gimana perasa-anmu sekarang?” “Ya biasa-biasa saja, soalnya artis kan harus tenang, sambil berlaga seperti artis. Bokir hanya dapat tertawa dengan kuat, melihat gaya Bukor.” “Kir.., kamu macam nggak tau sih, sekarang ini perasaanku gerogi bercampur gembira.” Sebentar lagi kan kita akan tampil, yah selain mempersiapkan mental aku juga kagum, ternyata banyak juga fans seminari.

Selain Paduan suara Seminari yang kebolehannya pas-pasan, jika dbandingkan dengan Credo, seminaris juga membawakan Drama Spektakuler (Patung yang Ajaib), Gitar Akustik, dan tari yang juga diikuti beberapa siswi SMA Bintang Timur. Wah, pokoknya kali ini Seminari mennjukkan siapa sebenarnya Seminari itu. Memang masih banyak lagi bidang seni lain yang belum ditampilkan oleh para semnaris. Tapi yang jelas ini merupakan ajang untuk menuju ke tampilan berikutnya. Soalnya Seminari sudah merencanakan untuk mengadakan Drama kolosal September nanti, pokoknya ini merupakan pertunjukan yang lebih berkesan lagi.

25 – 26 April 2007

Setelah mengikuti Babak Penyisihan di Auditorium Universitas Nomensen, Pematangsiantar, pada tanggal 25 April 2007, pejuang Seminari yang berjumlah 10 orang dinyatakan oleh juri berhak melangkah ke Final Festival dalam rangka memperingati HARDIKNAS 2 Mei 2007 & Hari Jadi Kota Pematangsiantar. Keesokan harinya, pukul 08.00 WIB dengan semangat, mereka melangkahkan kaki ke gelanggang pertandingan untuk mengharumkan nama Seminari. Pada Festival ini mereka akan membawakan lagu wajib GEBYAR! GEBYAR! dan lagu pilihan BORU PANGGOARAN. Dengan nomor undian 6, para penyanyi Seminari menampilkan yang terbaik dari diri mereka. Setelah lagu pilihan selesai dinyanyikan, gemuruh tepuk tangan serasa menggetarkan gedung besar tersebut.

Dengan berkat Tuhan Yang Esa dan usaha para pejuang serta dukungan moril dari para seminaris dan staf, Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar meraih Juara I Festival Vocal Group Tingkat SMA se-Pematangsiantar dengan angka mutlak. Atas keberhasilan tersebut Seminari akan memperoleh sebuah pialah, piagam dan uang pembinaan, yang akan diserahkan pada tanggal 2 Mei 2007. Ad Maiorem Dei Gloriam. Bravo Seminari!

26-28 April 2007

Dengarlah kami… Dengar apa ya? Seperti yang sebelumnya diceritakan, setelah mengikuti training untuk menjadi penyiar radio, beberapa seminaris kini telah bertugas di Radio KARINA mengudara di 98,7 FM langsung dari Biara Kapusin Nagahuta. Program yang mendidik ini, merupakan lahan untuk menggarap potensi-potensi seminaris yang masih tersembunyi. Sekali lagi, terima kasih kepada staff Seminari yang memberi lahan ini.

Mau tahu bagaimana aksi para pejuang kita? Langsung putar frequensi ke 98,7 FM dan temukan diri Anda tersenyum kepada dunia.Programnya: Minggu-Kiasan (Kisah Para Santo) Senin-Salutare (Salam Untuk Anda dan Request), Selasa-Seminari (Seli-ngan Musik dan Info Hari Ini), Rabu-Salutare, Kamis-Gloria (Gelora Olahraga dan Informasi Aksinya), Jumat-Cantus (Kata-kata Mutiara untuk Saudara), dan Sabtu-Salutare.

Semoga informasi ini dapat berguna bagi Saudara/i yang berniat untuk mendengarnya dan Selamat Mendengar! Masih tersenyumkah?

27-28 April 2007

Seminaris menurut cerita orang memiliki kategori berikut: ganteng, imut, culun, pinter, kalem, alim dan banyak dah yang laen. Berita baru yang perlu ditambahkan orang pada kategori itu adalah: jago. Pada 27-28 April 2007, sejumlah kecil seminaris mengikuti Kejuaran TAKO memperebutkan piala Bupati yang diadakan di Sopo Godang Jl. Asahan. Menimbang tidak sedikitnya peserta dari setiap dojo, maka sparing atau komite diadakan sesuai dengan classnya masing-masing, ada yang disebut class pemula, prakedet, kadet, junior dan senior. Hari itu juga para seminaris berangkat mengikuti kejuaran TAKO Bupati Cup, sayangnya karena banyaknya peserta, pada gilirannya mereka terpaksa dipertandingkan keesokan harinya.

28 April 2007, dengan percaya diri mereka berangkat menuju tempat kejuaraan. Di sana mereka kembali berjumpa dengan atlet Siantar dan sekitarnya. Seminaris bertarung… Bukan hal yang sia-sia mereka berlatih selama ini. Para seminaris pulang membawa 3 medali emas. Perlu ditambahkan kategori: Seminaris juga jago.

28 April 2007

Hari ini termasuk hari sibuk bagi seminaris. Ada 2 pertandingan yang akan dilangsungkan hari ini, cabang olahraga bola kaki dan bola basket. Untuk cabang bola basket, Seminari akan bertanding melawan SMA Kalam Kudus, dan untuk cabang bola kaki, Seminari akan bertanding melawan SMA Prapat.

“Aduh…Kir! Gimana ini, SMA Prapat kok belum kunjung kelihatan bayangannya? Udah gak sabaran ingin ‘main’ ini!” curhat Baker sama Bokir.

“Ya, mau gimana lagi, kemarin sih sesuai dengan kesepakatan, pertandingan akan dimulai pukul 15.30 WIB. Sekarang sudah pukul 16.30 WIB, mereka belum datang juga. Mungkin kehujanan kali? Nah, itu mereka, yang ditunggu sudah datang.

Untuk keterlambatan ini, seminaris harus minta ijin lebih dulu untuk memulai pertandingan yang tertunda.

10 Mei 2007

Tunggu, jangan keburu nangis! Mari, silahkan baca dulu ini artikel. Gini ceritanya, adalah kegiatan tahunan Seminari dalam mengadakan perpisahan ini. Kejam? Sabar! Sejumlah seminaris, beberapa pejuang kita, yang masuk dalam skuad Poesis 2006/2007, mau tidak mau akan hengkang dari rumah ini, meletakkan diri atas kehendak Tuhan (baca: menjadi pelayan bagi umat Allah). Untuk ini Seminari mengadakan misa perpisahan melepas kepergian mereka. Meski masih seumur jagung, skuad ini telah memberi banyak dalam kemerduan nama Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar, dan mereka telah memperoleh sangat banyak dari almamaternya ini.

Katanya panggilan itu misteri, buktinya 8 pejuang memilih untuk tidak memilih untuk melanjut ke jenjang pendidikan calon imam lagi. Cerita mereka, perjuangan di Seminari cukuplah dulu, di tempat lain kami akan berjuang. Misteri!

Walaupun demikian staff Seminari bersyukur telah ikut serta dalam pembimbingan rohani anggota skuad ini. Dalam misa ini, kita mohon semoga para pejuang, hidup seturut kehendak Tuhan dan mengabdi kepada masyarakat, keluarga dan Tuhan. Fiat mihi secundum verbum Tuum.

28 Mei 2007

Hari ini diadakan semacam seminar kecil mengenai pengenalan internet serta sedikit informasi mengenai penggunaannya. Bang Surdianto Turnip, alumnus Seminari Christus Sacerdo tamatan 2000/2001, mantan ketua Majalah LEMBAGA yang kita cintai ini. Beliau dengan jelas memberikan ceramahnya tentang Internet kepada para seminaris yang haus informasi tentang yang satu ini.

Seperti biasa Bokir, dengan antusias memanfaatkan kesempatan ini untuk apa saja. Kalau tidak ditahan oleh Baker dan Bukor, pertanyaan pasti akan terus mengalir. Kita harapkan bersama agar para seminaris setelah ini mampu memanfaatkan internet untuk sesuatu yang berguna.

See you ….. …… *_* Baker, Bokir dan Bukor 06/07

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Siapa sih yang nulis artikel ini? Lucu deh. Mengapa pertandingan yang diikuti seminari kebanyakan pertandingan olahraga? Mengapa para seminaris tidak mengikuti olimpiade mipa? Tak mampukah? Apa seminaris masih bisa tersenyum membaca komentar ini?

  2. Bagi penulis artikel ini, lagi dong…..???
    abis lucu banget…!
    kapan ada lagi.
    pengalaman yang mengasyikkan banget. jadi pengen deh..
    cemoga anak seminari menengah sukses selalu dan jaya besama.
    jesus Christ love You All
    aku ikut doain klen deh.
    salam dariku anak SMK ASSISI Pem-Sie….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: