DEMI PANGGILAN…SEMUA KITA DIPANGGIL UNTUK….

Jumat, 8. Juni 2007 pukul 21:05 | Ditulis dalam Artikel, Lembaga Majalah Seminari | Tinggalkan komentar

SAJIAN UTAMA

Suka duka bersama seminaris adalah gelombang hidup yang harus dilalui. Sebagai pendamping, dalam hal ini guru, pasti sedikit banyak mengalami hal di atas. Bersama seminaris, sejuta harapan kita patri di pundak mereka. Sebagai seorang dewasa, kita bergandengan tangan dengan mereka menuju suatu panggilan. Apa panggilan mereka, sebagai guru, imam, atau….? Sebagai pendidik kaum muda, apa sebenarnya yang perlu kita lakukan, bagaimana dan mengapa? Sejumlah pertanyaan tak akan habis-habisnya hadir. Seminaris telah mengalami pasang surut, ada maju mundurnya. Pada dasarnya kedewasaan yang kita tuntut dari mereka secara utuh adalah merupakan proses berkesinambungan, tapi bagaimana kita membangun mereka secara utuh agar tumbuh menjadi pribadi yang dewasa, pribadi yang menunjukkan suatu sikap yang konsisten terhadap segala tindakannya, keputusannya. Bagaimana seminaris itu berani mengambil resiko akan segala keputusannya, bagaimana mereka menempatkan diri di tengah badai gelombang hidup terhadap cita-cita dan panggilan mereka. Dari pengalaman bersama seminaris, tahap demi tahap, aneka ragam ‘uneg-uneg’ biasa kita dengar. Secara umum, seminaris masih didominasi oleh emosi dalam memutuskan suatu panggilan. Keputusan seminaris belum atas pertimbangan yang cukup matang. Seminaris cenderung pada keputusan apa adanya dan ikut pada arus teman. 

Kreatif mencipta sesuatu secara menyenangkan

Pribadi kaum muda dapat dibentuk lewat kreatifitas. Di Seminari, berbagai cara sudah dilakukan untuk menumbuh-kembangkan segala potensi mereka yang ada. Salah satunya adalah ‘sore seni’. Melalui kegiatan ini, seminaris dihadapkan pada pengembangan dan aktualisasi diri. Bagaimana seminaris menempatkan dirinya, menunjukkan kemampuan, mengolah diri menjadi pribadi yang baik, benar, dewasa baik emosi maupun intelektual. Langkah ini dilakukan agar mereka dapat menentukan pilihan. Kegiatan seperti ini juga mampu memupuk panggilan mereka, hendak bagaimana mereka kelak. Kegiatan ini juga mengajak seminaris untuk lebih mencintai dan menyadari dirinya.

Menanamkan nilai kepercayaan

Memberi dan menanamkan nilai kepercayaan atas segala usaha dan kinerja seminaris sangat dituntut dari mereka yang menjadi pendamping (guru atau siapa saja). Hampir dalam berbagai situasi, nilai itu ditunjukkan. Kita berikan mereka kepercayaan dan kebebasan yang bertanggungjawab. Kita tanamkan pada seminaris suatu rasa, bentuk kepercayaan dan kalau perlu pendelegasian yang bertanggung-jawab tanpa harus dicekcokin, namun secara konsekuen (ini semua tentu butuh perjuangan dan kerja keras dari semua pihak). Suatu nilai yang hampir jauh dari harapan. Bagaimana suatu sistem itu dikondisikan sebaik mungkin, bagaimana agar mereka tidak dijadikan mungkin sebagai objek emosi, tetapi bagaimana kita menanamkan, memberi nilai itu. Dengan dewasa dan tanpa tertekan, seminaris boleh berekspresi sesuai potensi dan panggilan hidup mereka. Moga-moga subur.

Figur dan teladan hidup

Semboyan pendidikan oleh bapak pengajaran nasional, Ki Hadjar Dewantara, masih sangat tepat untuk direnungkan kembali. Sebagai kaum muda, seminaris itu dihadapkan pada realita hidup pendampingan oleh pribadi yang dewasa, pribadi yang patut ditauladani. Sebagai pendidik, pribadi yang sungguh dijadikan idola, suriteladan, masih sangat perlu. Sosok pribadi yang patut untuk ditiru, dijadikan model perlu ditunjukkan kepada seminaris. Seminaris dapat dengan lugas dan simpati kepada mereka yang dianggap sosok atau figure yang perlu ditiru dan diteladani. Lewat ini, diharapkan seminaris itu tertarik, panggilannya mekar dan berseri. Kehadiran kita yang sungguh mereka anggap sebagai model itu, memotivasinya akan berbuat lebih baik lagi dari yang sebelumnya. Mendorong panggilannya. Artinya, lewat guru, pendamping, pembimbing yang digugu, dan ditiru, seminaris semakin lebih mengenal bahwa pribadi Yesuslah yang ditampilkan, Yesus sebagai guru sejati. Motto: Guru kencing berdiri, murid kencing berlari, tetap menjadi alasan. Kita yakin bahwa lewat semua aksi yang kita tampilkan, seminaris melihat bahkan meniru. Jadi, kalau yang baik panutan, idola, pasti mereka ikut.

Berkarakter dan berspontanitas

Pendirian yang tangguh, berkarakter, dan spontanitas ada baiknya dimiliki oleh seminaris. Menghadapi tantangan pada era komunikasi yang bebas ini, perlu dipatri dalam diri mereka suatu karakter yang sungguh-sungguh mematangkan, menentukan arah panggilan hidup mereka. Jiwa spontanitas yang membangun dirinya, membangun almaternya sangat diharapkan dari seminaris. Spontan menunjukkan yang terbaik, membangun kebersamaan, dan juga berani dan berkarakter. Ini suatu nilai yang mungkin perlu dibina secara dewasa dan bertanggungjawab selain semua nilai yang sudah mereka terima sebelumnya.

Pendidikan dan asrama

Hanya seminaris itu sendirilah yang dapat menjadikan dirinya pandai lewat belajar. Untuk membentuknya agar dapat belajar, ada sistem pembelajaran. Seminaris sebagai kaum muda yang diberdayakan menjadi sosok yang mampu, kompeten, dewasa dan bertanggungjawab. Untuk menuju hal di atas, mereka mem-butuhkan kelompok baya. Seminaris didewasakan dalam suatu sistem yaitu asrama. Sebenarnya, kehidupan dan proses dalam keluarga belum dapat digantikan oleh asrama. Kelamaan dan kekurangan dalam keluarga inilah hendaknya dilengkapi dalam asrama. Kebebasan dalam keluarga tidak dapat diterapkan di asrama. Namun yang menjadi perhatian sekaligus pertanyaan adalah apakah dinamika hidup dan segala keteraturannya sesuai dengan irama hidup remaja dan pemuda masa kini? Dalam asrama, kehidupan telah diatur sedemikian rupa secara sistematis. Persaudaraan hidup dalam asrama masih sebatas sistem yang berlaku, bukan karena hubungan satu darah. Jadi, bagaimana seminaris menempatkan diri dalam hidup asrama dan sekolah sekaligus. Meskipun dikatakan bahwa keluarga tetap tempat membentuk orang muda yang paling baik, bukan berarti seminaris harus kembali ke rumah, dan tidak perlu asrama. Semuanya perlu demi pendidikan dan pembinaan.

Harapan

Seluruh sistem yang sudah ada hendaknya mengantar seminaris akan suatu panggilan. Seminaris hendaknya menghayati bahwa lewat dirinyalah Tuhan berkarya. Jadi semua kita dipanggil hanya bagaimana caranya, tetap karya Ilahi.

Mei 2007Oleh: M. L. Pasaribu, Guru Bahasa Indonesia

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: