Buk! Bak! Bok!

Jumat, 8. Juni 2007 pukul 21:34 | Ditulis dalam Artikel, Lembaga Majalah Seminari | 5 Komentar

CERPEN

Siang itu Bukor sedang asyik mengelus-elus perutnya sambil membayangkan enaknya tidur siang di domus (baca: kamar tidur). Tiba-tiba tangan kurus, kecil, kering menyambar cepat lehernya yang laksana timbunan gunung lemak itu. Pandangan bernafsu dengan mata yang seakan-akan hendak menelannya membuatnya takut setengah mati. “Bukorrr…,” kata suara itu. “Tidak…,” balas Bukor. “Ha… ha…ha…,” suara tawa itu semakin keras. “Jangan…!” teriak Bukor lagi. “Ha…ha…ha…,” suara tawa itu semakin keras. “Aku masih muda… JANGAN…!” teriak Bukor histeris bagai Tora Sudiro saat melihat Aming pakai bikini (red). “Ya…ha…ha…hei…JANGAN LARI DARI TUGAS. SEKARANG GILIRAN KITA MEMBERI MAKAN BABI!” Kejadian kemudian membuat seluruh penunggu Seminari (seminaris, red) yang sedang belepotan sabun berbalut kutang terharu dan tersentuh ketika Baker yang kurus menyeret-nyeret kaki Bukor yang meronta-ronta dan berteriak histeris, “AVE MARIA… GRATIA PLENA…”

Wajah Bukor yang sebulat tomat, semerah cabai, dengan rambut brokoli membuatnya tampak seperti kebun sayur yang kebakaran, mendorong beko besi full-music (red), “Ngiiik… ngii-eeek…” laksana jendela tinggal satu daun jendelanya di malam kliwon tertiup angin dari dalam maupun luar, menjadi saksi bisu yang berisik saat sepasang… (kembali ke cerpen). Di sampingnya berdiri sosok ceking berkacamata yang ukuran kaca-matanya melebihi ukuran wajahnya sendiri dengan pandangan serius yang terpaku pada buku sains di tangannya sambil sesekali bergumam “Ya…, hm…, pantas…, ah…, ehm…, ha? Sementara satu-satunya hal paling normal adalah bokir yang asyik bersiul sambil mendorong beko ke rumah sakit untuk mengambil hal-hal yang terabaikan manusia dan disumbangkan pada makhluk-makhluk ganas bin rakus yang menunggu di belakang asrama, BxxI!

Masih dengan hati yang terluka seperti diiris-iris, dibumbui asam, digoreng dalam minyak panas dengan sambal cabe merah (hmm…pasti enak), begitulah perihnya hati Bukor ketika ia harus menerima kenyataan atas vonis Baker bahwa ia bertugas memberi makan babi siang itu. Ia bergumam dengan suara perih bagai pejuang, “hilang sudah waktu tidurku, makhluk-makhluk laknat datang membayang, bagi yang muda aku berharap GANTIKAN AKU, AKU INGIN ISTIRAHAT!” “Buk”, sebuah botol air mineral melayang tepat ke arahnya, memberi cap “aqua” pada pipi montoknya. “BERISIK GOBLOK”, maki seorang pasien yang kini layaknya mumi, penuh darah dan perban. “Maaf mas!” Bukor tersenyum (sok) manis, menyesah bahwa ia telah lupa ia masih di rumah sakit dan masih menenteng cairan kimia terbusuk yang pernah ada, “nasi sisa”.

Ia masih menggerutu dan ubun-ubunnya tampak berasap, laksana gunung Semeru yang hendak meledak sambil menenteng-nenteng nasi sisa di kanan dan kirinya. Ia memandang ke belakang memandang Bokir yang dengan senyum manis membalas tatapan kagum para perwat atas ketampanannya yang laksana kembara Roger Danuarta. Bukor mendongkol dan berkata dalam hati, “Hei aku juga kan imut, manis, lucu, nggemesin, dan sehat”, katanya menyombongkan timbunan lemak pada bisepnya dengan mengangkat lengannya.

Kejadian selanjutnya tampak seperti adegan lambat film perang. Bokir berlari kea rah Bukor sambil menggapai-gapai tangannya ke arah Baker yang menjatuhkan bukunya dan menatap bengong ke arah Bokir, kemudian ke arah Bukor, dan memegang kedua kepalanya dan berteriak histeris “TIIIDAAAKKK….. AAAWAAASSS…. KOOORRRR!” Bukor masih tersenyum, mengangkat lengannya dan menoleh ke arah Bokir yang tampak berlari dengan adegan lambat dan kelihatan putus asa. Bukor memandang ke depan dan “Bak!”, ia menabrak sosok sekekar Ade Rai dan setampan Tukul Arwana. Kedua ember nasi sisa masih melayang di atasnya masih dengan gerakan lambat. Bukor memandang pasrah pada kedua ember plastik itu dan menengadahkan lengannya untuk melindungi wajah tembamnya, ia akhirnya menutup mata dan mengucapkan kata-kata terakhir yang akan menentramkan jiwanya, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu” “BUK! BAK! SERR…! BHASH…! NGIK…….. NGOK….. KLONTANG….AH….! Akhirnya kedua ember sakti beserta isinya itu melumuri tubuh Bukor yang gempal. Seekor kucing mendekatinya dan dengan penuh kasih sayang menjilat wajahnya bukor, jilat…, menjilat dan menggigit pipinya yang laksana kornet sapi itu…” Arggghh…” pekikan Bukor memenuhi ruangan rumah sakit.

Keadan Bukor kini laksana gunung sampah berjalan.

Tu bi kontinyu..

Oleh: Richardo Marpaung, Gram A 2006/2007

5 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Aku rasa Cerpen ne baik dan layak Publikasai.
    Dan sejauh saya pandang pengarang ini (Ricardo Marpaung) dapat mengungkap secara baik dan jelas apa yang hendak didoktrinkan( pesannya) baik. saya yakin ne akan dapat menjadi aset seminari sebagai penulis yang baik.

    salam
    nb. tolong agar orang2 spti ini di simpan baik dan terus diperkaya thank’s

  2. Ricardo Marpaung, hebat sekali. Saya suka dengan cerpenmu, kalau aku yang menilai kamu itu saingan dengan B. nugroho penulis cerpen remaja yang paling unik se- Indonesia.Oke deh aku cuma bisa ngucapin GOOD LUCK Bro! Semoga kamu bisa menjadi seorang imam, imam yang baik tentunya.

  3. OOiii

    mantap kali cerpen kw Kardo

    hehehe

    msi ingat ko ma abang kan

    masi ketua meja ko ga inat sihh

    hahaha

    slamat deh
    kembangkan ya geng caranya perbanyak nulis cerpen dan kalo bisa minta aja ama Pastor Erwin spaya studi banding.
    hahaha
    Pasti ga dikasi.
    hahaha
    tp jangan mnyerah kalo ga di kasi bilang aja nanti aku TD pastor. . . .
    hahaha
    just kidding.

    bubbay_oo

  4. hahaha, hihihi, hohoho, hebat banget cerpennya……!!! membaca cerpen ini serasa tambah umur satu tahun aja…!! Wah, gini nih calon pastor kita yang perlu di tingkatkan,

    kalau boleh cerpen yang lainnya kirimin ke e-mail aku ya…!! Please, please, please…..!!

    parlobe ma hanami makkatahon tarimakasih, terimakasih banyak, thank’s a olot,
    Horas, horas, horas………!!!

  5. Boleh juga Ceritamu Ito … (Bener gak Panggilannya ?)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: