BUAT AYAH

Jumat, 8. Juni 2007 pukul 21:12 | Ditulis dalam Artikel, Lembaga Majalah Seminari, Umum | Tinggalkan komentar

PERCIKAN PENGALAMAN

Ketika aku menapaki panggilanku, banyak hambatan-hambatan yang besar. Langkah demi langkah kakiku kuangkat menuju titik hidupku.

Diwaktu masih kecil aku tetap dirundung malang yang begitu menyedihkan hingga aku terlarut dalam mimpiku yang sedih. Aku menangis ketika saya akan meminta uang kepada ibuku untuk uang sekolah. Ibu berkata, “sama ayahmu saja kamu minta!”. Namun ayah tetap hampa dan tak berkutik karena dia telah menjudikannya. Air mata pun berlinang ketika ayah dan ibu saya bertengkar di rumah karena saya dan adik saya yang tak mau disuruh bekerja.

Memang kami tak mau bekerja karena kami berpikir, ini semua untuk ayahku. Raut muka ibuku yang yang sangat sadis membuatku bangun dari tidur. 

Ketika aku masih SD, di SD St. Pius Parsoburan, keadaan keluarga kami begitu kacau. Ayah saya berjudi tiap malam dan ibu hanya berdoa dan merintih di rumah kecil kami. Akupun ikut juga tak tenang di sekolah. Sering aku melamun bagaimana caranya untuk membuat ayah sadar. Ketika aku memberi masukan, namun ayahku tetap membentak saya.

Waktu tak terasa SLTP pun akan tiba. Saya pun bingung, kalau saya ikut yang swasta, uang pasti banyak, kalau ikut negeri beli buku paket yang mahal-mahal. Saya pun tidak mampu berkata apa pun untuk ibuku, karena ibuku tidak akan sanggup untuk membiayai saya. Namun, ibu pun berkata supaya ikut yang swasta walaupun ayah saya tetap juga berjudi. Ketika kami menjual ladang kami, ayah saya mengambilnya (uang) untuk dijudikan di kedai. Saya pun tak bosan-bosannya untuk memberi masukan kepada sang ayah, namun ayah tetap juga membisu.

Ketika aku duduk di kelas tiga SLTP swasta Kartini Parsoburan, akupun harus memilih SMU yang mana akan kujalani. Sayapun ingin ke Seminari Menengah. Namun orangtua tak mau karena hanya saya andalan mereka untuk bekerja.

Saya pun terpaksa semacam melarikan diri ke Seminari. Dan akhirnya, saya diterima dan memulai untuk belajar di Seminari. Namun, kalaupun saya telah berada di Seminari ini, uang sekolah/asrama tetap saja terlambat dan kadang–kadang harus menunggak. Begitulah hidupku sampai sekarang dan saya akan menapaki panggilanku dengan penuh semangat, walaupun banyak masalah yang menjadi penghalang panggilan saya. Saya yakin, hidup tanpa masalah bukanlah hidup. Saya yakin Tuhan besertaku.

Sekarang saya duduk di Grammatica (tingkat dua) dan akan melanjut ke Syntaxis (tingkat tiga). Semoga saya dapat memupuk panggilanku.

 

By : Mauritius, Grammatica A 06/07

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: