Menjadi Seminaris yang Kreatif

Jumat, 20. April 2007 pukul 17:21 | Ditulis dalam Umum | 1 Komentar

Pada zaman edan ini, semua orang bukan hanya dituntut untuk cerdas secara intelektual dan keterampilan tetapi juga harus sangat urgent. Tanpa ada kreativitas dalam mengerjakan sesuatu, seseorang hanya mampu menciplak/flagiat dan tak dapat mencipta. Bila hal itu tidak kita kembangkan/tidak kita sadari pada diri kita, kita dapat saja “dijajah” oleh orang lain. Kini kita harus menyadari realita tersebut, bahwa kreativitas itu mengambil peranan yang amat penting (urgent) dalam meraih kebahagian pribadi maupun bersama.

Orang kreatif pada hakikatnya unggul dalam pekerjaan, memiliki pendirian, mampu memberikan ide-ide baru, conceptual, dan sebagainya. Orang tersebut mungki mampu saja untuk memecahkan masalah dengan arif dan bijaksana.

Arti kreatifitas itu sendiri secara etimologi, berasal dari Bahasa Latin yakni creare yang berarti Mencipta, pengertian sederhana kreatifitas dapat diartikan demikian; kemampuan seseorang untuk mencipta sesuatu yang baru serta dapat dirasakan oleh orang lain.

Di Seminari sendiri tampak bahwa para seminaris dituntut untuk dapat hidup, tumbuh dan berkembang menjadikan kehidupan dengan bunga-bunga kreatifitas. Dengan kata lain sebagai calon-calon imam, kekreatifan itu diharapkan sudah ada dan berkembang dalam diri sendiri.

Namun, Apakah kita mampu untuk mencipta? Apakah mencipta itu gampang? Adakah aral dalam menumbuhkan kreatifitas?

Memang kemampuan kita berbeda-beda tergantung kerja keras, ketekunan, kerajinan, kebisaan dsb yang akan memberikan motivasi bagi kita untuk berkreasi.

Mesti disadari kebanyakan individu malas untuk mencoba dan mencipta. Memang membuat sesuatu orisinil itu bukanlah pekerjaan yang gampang, membutuhkan banyak hal. Namun, apa salahnya mencoba. Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali.

Hal-hal yang membuat kita kadang tidak sanggup berrkreasi adalah banyaknya aral-aral yang membuat kita enggan berkreasi. Beberapa aral tersebut ialah:

Aral motivasional

Motif ini sangat mempengaruhi prilaku, keinginan, atau tindakan-tindakan sengaja lainya. Tanpa ada motivasi orang cenderung tidak terdorong dan tidak tergerak untuk meraih sesuatu yang diinginkannya. Padahal kreativitas sering menuntut suatu rangkaian persiapan, pemikiran dan sebagainya. Bagi motivasi rendah, orang cenderung kurang menyukai kerja keras, kurang tekun dan enggan memanfaatkan kemampuan kreatifnya untuk memecah tantangan.

Aral kebiasaan

Sebagai perpaduan antara pengetahuan, ketrampilan dan keinginan, dan kebisaan (habitus) berpengaruh pada kreativitas. Kita yang kreatif umumnya memiliki kebiasaan yang menstimulisasi kreativitas. Dan kita yang kurang kreatif juga memiliki kebiasaan tertentu bahkan dapat meredam kreativitas itu. Misalnya, suka menghiraukan masalah (bukannya mencari solusi), malas berpikir, menghindari tantangan, menghiraukan tanggung jawab, menghakimi ide-ide baru, berpuas diri, menghindari hal-hal imajinatif dan lain-lain.

Aral sosial

Kreativitas kadang bukan semata aktivitas individual sehingga langsung atau tidak akan mempengaruhi aspek sosial. Hal ini cukup apresiasif dan menghargai kreativitas dengan layak sehingga dapat memotivasi individu-individu untuk produkti dan kreatif tentunya. Di balik itu situasi sosial yang lain relatif kurang apresiasif atau bahkan bersifat mengekang. Pendidikan tradisional misalnya sering dianggap suatu produk sosial yang kurang memberi tempat bagi kreatif.

Aral kepemimpinan

Dalam kehidupan sosial dan organisasi sosial, faktor gaya kepemimpinan juga berpengaruh secara signifikan terhadap proses kreativitas. Jika pemimpin organisasi kurang memberi ruang kebebasan, kurang bisa memotivasi, tidak mampu memberikan tantangan, tidak mampu mengolah hasrat kreatif, kurang memberi penghargaan, tidak memberi kepercayaan, tidak mendukung dan tidak menciptakan lingkungan yang kondusif, maka kreativitas individu-individu dalam organisasi jelas akan terhambat. Seberapa kratif individu-individu dalam tim, namun jika tidak didukung oleh kemampuan manejemen kreatif, hasilnya juga akan kurang menggembirakan

Dari sini tampaklah bagaimana tidak gampangnya untuk menjadi orang yang kreatif.

Nemo dat quod non habet, perkataan Latin ini yang artinya ‘Tiada seorang pun memberi apa yang tidak ia miliki’

 

 

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Memang menjadi orang kreatif itu butuh ketekunan dan rasa percaya diri yang tinggi serta tidak takut untuk gagal. Banyak orang yang berhasil setelah berani membuat eksperimen. experientia numquam non utilis est.
    Saat ini sangat dibutuhkan imam-imam yang tanggap dan peka dengan situasi dan kebutuhan umat. Beranikah kita bereksperimen dengan diri sendiri sebelum kita terjun ke medan pastoral?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: