KREATIVITAS

Jumat, 20. April 2007 pukul 17:11 | Ditulis dalam Artikel, Lembaga Majalah Seminari, Opini | 1 Komentar

Banyak hal yang bisa dikatakan bila berbicara tentang kreativitas. Kita bisa saja menyoroti bidang-bidang tertentu dalam kreativitas. Kita juga bisa menyoroti pribadi/kelompok yang berkreativitas. Kita juga bisa membicarakan tempat atau lokasi yang dalam kaitan dengan kreativitas yang sesuai, dan lain sebagainya. Singkatnya, pembicaraan tentang kreativitas, bisa menjadi begitu luas, sehingga saya harus membatasinya dalam cakupan faktor-faktor pendukung munculnya kreativitas dalam diri seseorang. Saya melihat bahwa kreativitas diharapkan selalu membuahkan hasil-hasil yang positif dalam mengembangkan yang lain. Itulah yang seharusnya kita lihat dalam suatu kreativitas, yakni: kelahiran sesuatu yang baik menuju kepada pembaharuan yang mengembangkan. Semangat inilah yang ingin saya bagikan kepada para pembaca yang budiman.

Kreativitas tidak pernah lepas dari “doing” yakni berbuat/berkarya, sekalipun itu dalam pikiran seseorang. Namun, kreativitas bukan berbuat atau memperbanyak atau pun mengulangi apa yang telah dan pernah dibuat. Dengan kata lain, kreativitas bukanlah asal ada sesuatu yang dibuat atau asal jadi, yang penting selesai. Kreativitas yang demikian telah mengalami kekerdilan makna dan di luar dari arti dan tujuan kreativitas itu sendiri. Kreativitas mencapai tujuan sejatinya bila yang dilakukan bermanfaat bagi yang lain. Bagaimana kreativitas seperti ini bisa tercapai?

Kreativitas yang seharusnya bisa tercapai, tentulah dengan memperhatikan banyak faktor. Pertama, harus diperhatikan bahwa kreativitas itu selalu berhubungan dengan yang lain. Hubungan itu tentunya bisa terjadi pada pribadi, kelompok, tempat dan suasana. Pelaku dari kreativitas tentulah menusia. Karena manusia adalah makhluk yang berpikir dan mampu berkreasi. Secara khusus, goresan ini memfokuskan perhatian pada pribadi atau kelompok yang adalah ditempat Seminari Menengah berikut dengan iklim atau pun suasana yang ada di dalamnya.

Secara sangat sederhana bisa dikatakan bahwa seminaris adalah bibit-bibit unggul yang sedang disirami dan dipupuk lewat pendampingan yang diberikan di Seminari. Sesuai dengan statusnya yang khusus, para seminaris pun dituntut harus memiliki kekhususan juga dibandingkan dengan Sekolah Menengah Atas lainnya. Ini adalah dasar penting dari suatu pengenalan akan siapakah seorang seminaris itu. Dan inilah tahap pertama sebelum seseorang melakukan kreativitas, yakni sadar akan dirinya dan di mana dia berada.

Setelah tahap pertama selesai (diakui sebagai proses panjang juga), hendaknya para seminaris dirangsang serta pelan-pelan diarahkan kepada semangat mengejar tujuan hidupnya (cita-citanya). Pada tahap kedua ini, para seminaris harus didampingi untuk melihat apa yang berguna dilakukan demi pencapaian cita-citanya. Dengan ini, para pendamping seminaris dituntut untuk lebih bekerja keras, terlebih itu bila dilakukan dengan teladan hidup para pendamping sendiri. Tahap kedua ini mencapai puncaknya apabila para seminaris sudah bisa melihat hal yang berguna bagi dirinya dan seraya dengan itu menjauhkan segala yang kurang mendukung ke arah cita-citanya.

Pada tahap ketiga, hendaknya para seminaris yang mulai peka akan kebutuhannya. Ia sudah mulai mencari apa yang berguna bagi dirinya, kelompoknya dan dimana ia berada. Sejalan dengan itu, para seminaris yang mulai mampu menyumbangkan dan mengembangkan dirinya, hendaknya diberikan pujian dan dukungan yang positif (tanpa membuat yang lain merasa terabaikan). Suasana seperti ini perlu diciptakan, sehingga para seminaris pun merasa “at home”. Setelah suasana ini tercipta, saya yakin spontanitas akan muncul tanpa diperintah. Dia akan berkembang dengan sendirinya bersama dengan sarana dan faktor-faktor pendukung lainnya sebagai suatu kreatifitas.

Kreatifitas tidak seluruhnya dipelajari, lahir dari kebutuhan diri dan kepedulian akan dunia sekitar tidak berhenti pada pemuasan kepentingan diri, kreatifitas selalu berguna bagi yang lain (ini baru yang sejati ), bukan usil dan mengganggu yang lain. Perilaku yang kreatif adalah ciri orang yang dewasa, tanggap akan kebutuhan diri dan orang lain. Jangan tuntut kreatifitas dari anak kecil.

Orang yang telah sadar akan kebutuhan dirinya, dengan sendirinya akan kreatif mencari apa yang perlu untuk diri dan melatih diri agar lebih terampil demi pemenuhan kebutuhan dirinya dan yang kelak berguna bagi yang lain. Untuk terampil, seseorang itu juga butuh sarana, terlebih suasana yang sungguh-sungguh kondusif.

Akhirnya, saya harus mengatakan bahwa untuk berkreatifitas itu bukanlah hal yang gampang. Banyak faktor yang harus diperhatikan agar para seminaris bisa semakin kreatif. Secara singkat faktor-faktor pendukung itu ialah:
Suasana yang akrab dan bersahabat dari pihak pendamping dan juga antar sesama seminaris.
Para pendamping harus memberikan teladan yang mendukung ke arah kreatifitas (cara berfikir yang kreatif, penyelesaian kerja yang kreatif, penyajian materi secara kreatif).
Harus ada sarana-sarana yang mendukung kreatifitas, agar para seminaris semakin terampil dan berkreasi lewat sarana-sarana tersebut.

Kreatifitas tidak sama dengan variasi atau asal ada perbedaan. Kreatifitas selalu mencari jalan terbaik dalam melakukan suatu pekerjaan, dalam penyelesaian suatu masalah. Kreatifitas itu tidak datang dengan sendirinya. Para seminaris tidak bisa begitu saja dituntut untuk kreatif tanpa faktor-faktor pendukung ke arah itu. Kalau para seminaris diharapkan untuk lebih kreatif, menurut hemat saya, baiknya kreatifitas itu lebih dahulu datang dari para pendamping (cara berfikir pendamping, cara mengajar serta pola hidup yang kreatif dari pendamping). Tentu berat bukan? Ini baik dikatakan agar kita (para pendamping) jangan terlalu menuntut tinggi akan kreatifitas para seminaris, kalau para pendampingpun kurang kreatif dalam banyak hal.
Saya jadi teringat akan sabda Tuhan yang mengatakan, “Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik. Mungkin bisa saya mengerti demikian (dalam konteks ulasan ini) bahwa bila pendampingnya (pohon) sungguh-sungguh kreatif, maka orang yang didampingi (buah) pun akan menjadi kreatif. Para seminaris itu kebanyakan masih meniru teladan kreatifitas dari para pendampingnya, sampai suatu ketika mereka akan menirukan bentuk kreatifitas kepada setiap orang yang mereka jumpai. Para seminaris itu adalah bibit-bibit unggulan dari suatu seleksi yang ketat, maka bila pendamping mau lebih kreatif, saya yakin pasti para seminaris pun bisa lebih kreatif (kekecualian pada pribadi seminaris tertentu).

Selamat berjuang saudaraku para seminaris dan para pendamping untuk menjadi semakin kreatif.

Oleh : P. Damianus Gultom
Pastor Pembantu di Paroki Balige

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. salam sejahtera bagi kita semua……
    selamat natal n tahun baru bagi kawan2 yang ada di seminari…
    terima kasih kepada guru n staff yang telah berjasa kepada dalam pengembangan diri saya…
    begitu banyak yang telah saya peroleh sehingga membuat saya tidak pernah lupa akan seminary tercinta…
    rasanya ingin kembali seperti di seminari…
    horas..
    Pax christi nobiscum…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: