KREATIFITAS BERSUMBER DARI ALLAH

Jumat, 20. April 2007 pukul 17:02 | Ditulis dalam Artikel, Lembaga Majalah Seminari | 1 Komentar

 KREATIFITAS BERSUMBER DARI ALLAH

(Refleksi atas kreatifitas Allah dalam menciptakan manusia)

 Bulan September yang lalu saya diminta oleh redaksi LEMBAGA untuk membuat renungan tentang kreatifitas dalam pengertian Biblis. Aku sedikit bingung untuk menguraikan tema ini dengan jelas sesuai dengan permintaan mereka. Alasannya karena dalam Kitab Suci tidak ada kata yang dengan tepat dan jelas menguraikan tentang kreatitifitas. Meskipun demikian di dalam Kitab Suci kita bisa menemukan bagaimana Allah dengan kreatif-Nya menciptakan segala sesuatu di dunia ini termasuk manusia. Untuk memahami tema ini kita mesti mengetahui apa sebenarnya kreatifitas itu.

Kreatifitas berasal dari kata dasar kreatif yang memiliki akar kata to create yang artinya mencipta, menghasilkan. Jadi kreatifitas adalah kemampuan manusia untuk menghasilkan atau menciptakan sesuatu yang positif dan berguna bagi dirinya dan juga bagi orang lain. Menurut David Campbell kreatifitas merupakan suatu ide atau pemikiran manusia yang bersifat inovatif, useful (berdayaguna) dan dapat dimengerti (understandable). Mempersoalkan arti dan manfaat kreatifitas bagai mempertanyakan arti makanan bagi makhluk hidup atau air bagi tanaman. Sulit membayangkan terciptanya sebuah karya seni tanpa kreatifitas. Jadi makna kata kreatif sesungguhnya hanya berkisar pada persoalan mencipta atau menghasilkan sesuatu.

Dari pengertian dan pemahaman di atas kita bisa melihat arti kreatifitas dalam kitab suci. Dalam Kitab Suci terutama dalam Kitab Perjanjian Lama kita menemukan bagaimana Allah menciptakan segala sesuatu di dunia ini termasuk manusia (Kej 1:1-31;2:7). Allah menciptakan dan menghasilkan segala sesuatu dengan sabda-Nya (Kej 1:1-31). Tentu Allah menciptakan segala sesuatu itu dengan penuh kreatif, inovatif, berdaya guna dan dapat dimengerti. Karya Allah yang paling agung dan mulia adalah manusia. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah sendiri. Manusia adalah ciptaan Allah yang paling luhur dari antara ciptaan-ciptaan yang lain. Dia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26-27).

Dengan bahasa mulia dan berciri sastra, pengarang suci melukiskan harkat/ hakikat manusia ciptaan Allah yang tertinggi: “berfirmanlah Allah : Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, supaya mereka berkuasa atas seluruh bumi. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (kej 1:27).

Roh manusia adalah ciptaan “menurut gambar dan rupa Allah”. Dalam roh itu terdapat sesuatu yang mendekatkan manusia kepada Penciptanya. Roh itulah yang memungkinkan manusia menjalin relasi dengan Allah. Karena roh manusia itu adalah ciptaan Allah maka roh abadi adanya. Oleh karena rohnya, manusia menjadi serupa dengan Allah yakni pribadi yang sadar akan dirinya sebagai ciptaan Allah. Manusia mengakui ketergantungannya pada penciptaannya dan merasa tertarik kepadaNya dalam suatu hubungan yang akrab. Ia sadar bahwa Tuhan adalah pokok dan tujuan terakhir keselamatannya. St. Agustinus salah seorang pujangga besar Gereja mengungkapkan kerinduan hati manusia dengan ucapan: “Engkau menciptakan manusia terarah kepadaMu, maka hati kami tidak tenteram sebelum beristirahat pada-Mu.

Ungkapan “diciptakan menurut gambar Allah” itu berarti bahwa dalam pertemuan antara Allah dan manusia terdapat suatu relasi yang amat khusus dan istimewa. Dalam pertemuan itu Allah bersabda dan manusia memberi jawaban dari perkataan dan perbuatannya. Manusia menjadi partner Allah dalam menjaga dan memelihara ciptaan-ciptaan yang lain dari segala sesuatu yang membahayakan dan merusak hidup mereka. Inilah sesungguhnya kuasa yang diberikan Tuhan kepada manusia supaya manusia dengan kreatif mencipta dan menghasilkan sesuatu bagi dirinya dan juga orang lain.

Ingat bahwa we are given the authority to use the power of God. Kita diberikan wewenang untuk menggunakan kuasa Tuhan. Inilah yang membedakan manusia dengan ciptaan Tuhan yang lainnya. Kita diberi kemampuan untuk mencipta, termasuk menciptakan realitas baru dalam kehidupan kita. Sehingga apapun situasi atau keterbatasan kita, kita memiliki potensi untuk menciptakan berbagai hal termasuk keberhasilan, kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup kita.

Dari pemahaman di atas penting sekali bagi kita untuk mulai belajar mengembangkan kreatifitas dalam diri kita. Seorang anak kecil dapat membuat berbagai macam bentuk permainan dalam hidupnya. Demikian halnya telah jutaan bahkan milyaran penemuan manusia yang berasal dari unsur-unsur yang terbatas atau sederhana. Penemuan roda yang berbentuk lingkaran misalnya telah menyebabkan terciptanya ribuan bahkan jutaan produk seperti mobil, kereta api, sepeda, ban berjalan dan sebagainya. Demikian juga penemuan dibidang lain seperti lampu listrik, pesawat udara, internet, komputer sampai pada menciptakan nuklir yang terkadang disalahgunakan oleh manusia, dll. Semua ini merupakan hasil kreatifitas manusia yang bersumber dari Allah sendiri.

Kita semua dilahirkan dengan potensi kreatifitas. Salah satu ciri yang membedakan manusia dengan ciptaan Tuhan yang lain adalah kreatifitas atau kemampuan kita untuk mencipta dan menghasilkan sesuatu. Hal ini merupakan bagian hakiki kita sebagai manusia dan merupakan bagian dari siapa kita. Kreatifitas merupakan instink kita yang terbawa sejak lahir bahwa sesungguhnya alam telah mengajarkan kita untuk menjadi kreatif.

Dari segi ilmu pengetahuan kita tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini dibuat atau dibentuk dari partikel proton dan elektron. Dalam kimia kita ketahui bahwa berbagai jenis bahan kimia terbentuk dari senyawa karbon dan hidrogen. Lebih jauh lagi kita ketahui pula bahwa semua perhitungan yang rumit dalam matematika, statistika maupun akuntansi keuangan, pada dasarnya terdiri dari hanya sepuluh lambang angka. Berbagai karya tulisan, sastra dan ilmu pengetahuan tersusun dari hanya 26 alfabet. Demikian halnya musik baik itu berupa klasik, rock n roll, new wave, pop, seruling, kolintang, dan akustik. Tercipta dengan sebuah harmonisasi yang indah dari 12 nada dasar. Semuanya itu merupakan hasil kreatifitas manusia yang bersumber dari Allah.

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari semua ini? Jawabanya adalah Kreatifitas. Kita dapat menciptakan banyak hal dari sumber daya yang terbatas dengan melakukan proses kreatifitas. Dengan kreatifitas orang bisa menciptakan dan menghasilkan banyak hal termasuk keberhasilan dan kebahagian dalam hidup kita. Kreatifitas yang kita miliki tentu berasal dari Allah sendiri yang telah menciptakan kita menurut gambar dan rupa Allah sendiri. Maka kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna diharapkan mampu menghasilkan sesuatu yang positif dan berguna bagi orang lain dan bukan untuk merusak atau menghancurkan sesama kita terutama yang lemah dan tak berdaya. Semoga. Amin.

Oleh: Fr.Hermanus Sahar
Calon Imam: Keuskupan Agung Medan

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. TRIMAKASIH MAS, ATAS ARTIKEL YANG DIBUAT, SEBAB DENGAN MEMBACANYA AKU JADI TERBANTU DEH UNTUK MEMAHAMI BAHWA ALLAH TERNYATA ADALAH SUMBER SEGALA AKTIVITAS, KARENA SELAMA INI AKU MENYANGKA BAHWA……….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: